Tenggelam

March 04, 2017


...


Belum jodoh.., bagian dua.

Tidak lagi ada kecewa di malam itu.
Hanya dekat, hangat, dan nyaman yang kami rasa.
Tembok tebal diantara kami telah runtuh, bahkan tidak meninggalkan puing. Semua cerita telah terungkap, rindu sudah terbalas. Kami pulang dengan kenyang. Haha.


Setelah malam itu, kami kembali berkutat dengan kesibukan masing-masing, lagi.
Sedang waktu yang kami punya tinggalah seminggu.
Dan selama itu kami hanya sebatas menyapa di bbm. Sebenarnya kami ingin bertemu lagi, tapi sungguh sulit.

Baik aku juga dia tidaklah menyebutkan, atau, memang kami tidak mengingat tanggal berapa tepatnya kami akan berpisah, tepatnya kami akan meninggalkan satu-sama-lain. 
Untuk waktu yang cukup lama. Lagi.
Sore itu, kami saling menyapa di bbm.
Biasa saja, tidak ada hal khusus yang kami bicarakan. Hingga aku bosan, ku geletakan saja hapeku dengan airplan mode.

Sore yang dingin.Hujan lebat di luar membuatku terpaksa mandi air hangat yang akhirnya menggiringku kedalam kamar, membalut tubuh dengan selimut tebal hingga tertutup rapat, ditemani dengan Fix You yang diputar paten berjuta kali, ku terkapar-kapar menikmati kesendirian di rumah.

Aku  l u p a  mematikan airplane mode.

 
Hari sudah gelap. Aku masih meneruskan kegiatan ini.
Bermalasan, mencampakan segala masalah. Berlagak seoalah hidupku baik-baik saja.

Juga pada akhirnya, aku mencampakannya.
Diluar sana, ada dia yang memanggil-manggilku. Dia ada di depan rumah. Sedang aku masih tenggelam dalam nyaman. Benar-benar tidak mendengar dunia luar.

Dan dia masih menunggu di luar sana, kedinginan. 
Masih mencoba memanggilku, mengetuk pintu gerbang lebih keras.

Bodoh.

Aku masih tidak mendengar apa-apa.
Untuk bangun dari tempat tidur-pun aku tidak punya alasan.
Layaknya dalam air.
Benar-benar tenggelam.

Hujan mulai mereda, aku bangit. Meraih hape dan aku hidupkan lagi dia.
Bunyi beruntun memecah suasana.
Terkejut bukan main, catatan panggilan tak terjawab, notif bbm semuanya dari dia yang mencoba memanggil, berulang-ulang kali.

Dia di luar sana selama lebih dari sejam. Sepi, dingin, dan hujan.

Aku menyesal. Sungguh aku menyesal.

"Terus, tadi kamu kerumah ada apa?"

"Sebenernya tadi mau pamitan. Besok subuh aku cabut"

Aku marah!

Sungguh, aku marah.

Di kesempatan terakhir sebelum kami berpisah lagi, kami tidak bisa bertemu.
Kecewanya adalah kami tidak bisa bertemu walaupun jarak kami hanya beberapa langkah.
Bahkan, di kesempatan terkahir ini pun aku masih mengecewakannya. Bodoh.

Menyalahkan keadaan pun percuma.
Tidak ada yang bisa disalahkan.

Hanya satu.

Aku

Aku marah kepadaku. 

You Might Also Like

0 komentar