"Peb, tadi o, pas aku lagi bikin sarimi, gak sadar kriuk-kriuknya aku buang ke tempat sampah. Ya, pantesan aja pas dimakan kok gak ada bunyinya gitu. Yahh, sayang yah.."
Gue gak butuh penjelasan teori kenapa bumi itu berputar. Gue juga gak butuh lo jelasin kenapa Indonesia gak dapet jatah salju di tiap Desembernya. Karena, Gue sudah merasa cukup, kok, dengan segala ocehan gak pentingmu itu. Ya, se-sim-pel-itu. DAN, ijinkan gue untuk menyelamati tiap pagi, bangun tidur-mu-itu, yang kadang kepagian, dan kadang juga (sering) kesiangan.
Belum jodoh.., bagian dua. Tidak lagi ada kecewa di malam itu. Hanya dekat, hangat, dan nyaman yang
kami rasa. Tembok tebal diantara kami telah
runtuh, bahkan tidak meninggalkan puing. Semua cerita telah terungkap, rindu
sudah terbalas. Kami pulang dengan kenyang. Haha.
Untuk saling bertemu, untuk saling berbagi cerita tentang
apa yang telah kami lalui masing-masing, atau, sekedar bercerita tentang sebetapa
membekasnya masa lalu kami.
Hujan
sedang bersama angin, menciptakan kata deras dan hawa yang dingin. Mereka
sedang bermain bersama, membuat pertunjukan cahaya kilat, bersuara gaduh di
langit.
Membuat resah mereka yang sedang di jalanan, dan mereka yang menanti
kepulangan.
Sedangkan di bagian dunia yang lain, gue lupa siuman.
Masih
terbungkus selimut lembut, berdua dengan bantal guling.
Kami masih berpelukan
kencang, enggan untuk melepas satu sama lain, di dalam kamar tidur yang gelap
tapi hangat.
Pertunjukan
langit mulai menjadi-jadi.
Suara gaduhnya mampu bikin jendela kamar gue
bergetar.
Sontak gue bangun.
Gelap.
Gue meraba-raba ke kanan dan ke kiri mencoba menemukan
hape redmi 2 berwarna hitam-putih, dan berharap ada notifikasi 100 panggilan tak
terjawab, biar bisa gue screenshot dijadikan dp bbm dan menuliskan 'maaf
ketiduran'. Gak penting. Tapi bikin gue keliatan penting.
'PEBI
jadi gak?!'Gue kaget bukan main setelah melihat pesan itu dari layar hape. Tersadar
gue ketiduran cukup lama, lima jam dari jam tiga sore. Buru-buru gue bangun
buat mandi. Maksud gue, sikat gigi dan cuci muka. Gue gak pernah mandi Ogah
banget mandi dingin-dingin gini.
Tanpa jas hujan, bergegaslah
gue ke rumah Fafa.
Kami janjian makan nasi goreng di tempat favorit kami dari
smp.
Fafa mau cerita.
Seperti yang gue duga.
Wajahnya masam, ada aura pembunuh disekitar Fafa, tanda dia sebel sama gue. Dan
seperti biasa, gue diomelin sepanjang perjalanan kami ke kedai nasi goreng
hanya gara-gara gue telat bangun tidur.
Sampainya
disana, kami basah kuyup.
Gak, maksud gue, cuma gue yang basah, si Fafa cuma
basah dikit di punggungnya. Curang.
"Pesen
apa, Peb?"
"Biasa"
Bukan hanya tempatnya yang
konsisten, pesanannya-pun juga ikutan konsisten. Tiap kali kesini kami selalu
pesan kwetiau.
Cuma 'kwetiau', walaupun sebenarnya di daftar menu ada yang
namanya kwetiau spesial dan kwetiau istimewa.
Hanya saja, dari awal kesini
sampai sekarang kami gak pernah tau apa bedanya kwetiau, kwetiau spesial, dan
kwetiau istimewa. Selain kami enggan untuk bertanya, mas-mas penjualnya juga
gak pernah nawarin ataupun sekedar ngasih tau. Sampai sekarang.
"Jadi
gimana? lo jadi ke Jogja?"
"Iya"
"Kenapa
dadakan gini. Kita aja belum sempet maen kemana-mana"
"Iya
emang dadakan. Sebenernya kalo bisa juga sore ini gue udah ke Jogja"
"Seberapa
parah sih?"
"Ada
lubang 3cm di jantung gue"
Dagu
gue keangkat.
Ada hening panjang disini. Hening, hanya tersisa suara mas-mas
nasgor mukulin wajannya.
Gue
gak tau harus bilang apa.
"Gitu
ya"
"He'em"
Lalu
datanglah mas-mas nasgor membawakan pesanan kami,
'kwetiau biasa' yang tidak
ada spesial dan istimewanya, tentu dengan senyum hangatnya, bukan buat gue,
tapi selalu buat Fafa.
Ya, mas-mas nasgor ini kayaknya naksir sama Fafa. Haha.
Setidaknya, mas-mas nasgor ini selalu membuat kami tertawa ketika memergokinya
curi-curi pandang ke Fafa, lalu masnya akan salah tingkah sendiri. Senyum-senyum
sendiri. Haha.
"Fa,
terus kata dokter lo harus gimana?"
"Dikasih
dua pilihan sih. Mau operasi atau pakek alat bantu. Tapi itu juga harus
nungguin hasil lab besok"
"Gak
diganti tubles aja sekalian?"
"Haha.. lo pikir gue ban, hah"
Gue
merasa lancang sih. Masih sempet becanda disituasi seserius ini.
Kami
berhenti bicara.
Mencoba fokus, lahap menikmati hidangan yang telah disajikan
mas-masnya, yang diracik dengan cinta tentunya. Haha.
Seperti
biasanya lagi, Fafa jarang menghabiskan porsi kwetiaunya dan nyuruh gue buat
ngabisin jatahnya.
Ini salah satu alasan kenapa gue hobi ngajak dia makan.
"Kalo
lo bisa milih, apa yang bakal lo pilih?
"Gue
siap semuanya, Peb. Mau itu operasi sekalipun, gue sudah siap. Gue pengen
sembuh"
"Terus,
apa yang bisa gue lakuin buat lo?"
"Doain
gue aja. Dan maafin gue kalo ada salah sela..."
"Itu
pasti. Gue doain yang terbaik buat lo. Dan, Fa, gue ngerti apapun keputusannya
itu pasti punya resiko. Gue gak bilang itu mudah. Tapi gue selalu bilang lo
kuat. Lo adalah cewek yang kuat. Selama lo punya semangat buat sembuh, maka gue
yakin lo sembuh. Seperti yang lo tau, rencana Tuhan memang misterius, tapi gak
pernah gagal indah. Sama kayak kwetiau ini Fa, kita selalu memilih kwetiau yang
sama, walaupun sejak dulu kita tau ada pilihan kwetiau lain di menu, kita tetap
memilih pilihan kita. Toh, pilihan kita ini gak pernah gagal bikin kita seneng dan
kenyang, walaupun kita kesini hujan-hujanan, marah-marahan, tapi coba liat, gak
ada penyesalan, Fa. Gak akan ada"
Ada
senyum yang melebar. Ada hangat yang merekah di tengah badai.
...
Fa,
dimanapun lo sekarang, gue selalu nunggu lo disini. Gue yakin lo bakal balik
kesini besok, dengan tawa yang puas.
Teruntuk
perempuan kuat 'Fafa'.., Semangat!
Tidak
ada penyesalan dari pilihan yang telah kita pilih
Waktu gue masih doyan rental
PS bareng temen-temen.
Rame-rame.
.., biar bayarnya patungan.
hehe.
Rutinitas gue dulu ngga lebih dari sekedar sekolah-PSan-tidur-ulangi. Tiap
hari gitu mulu, seolah kehidupan gue berjalan dengan damai dan sejahtera.
Hingga..,
di suatu mata pelajaran, gue dikasih
tugas kelompok, bikin film. Dan, disinilah gue mulai deket dia. Cie.
Jadwal tugas film ini cukup padet.
Perlahan
pasti, gue mulai meninggalkan rutinitas kehidupan yang nyaman dulu. DAN, membuat
gue mulai deket dengan seseorang, membuat gue masuk ke kehidupan dia.
Tiga bulan bikin film, hampir tiap hari kami
ketemu.
Dari yang tadinya cuma ngobrolin seputar tugas, jadi ngobrolin hobi
masing-masing. Yang tadinya cuma ngechat tanya tugas, sekarang jadi ngechat
tanya udah makan belum.
Tanpa sadar, dia menjadi rutinitas baru gue. Cie.
Pendek cerita, tugas bikin film berhasil
dikumpulkan dengan selamat. Tapi rutinitas baru itu malah jadi lebih serius.
Hasilnya, tiap hari bangun-bangun
mata merah, berangkat sekolah sempoyongan, nyampe kelas bukannya belajar malah
bobok.
Dia sukses ngubah gue.(Yang ini kayanya gausah di-cie-in).
Kedekatan kami sangatlah
ketara, dan kami-pun ngga mencoba buat menutup-nutupinya.
Gosip-pun banyak
beredar. Kami menjadi bahan pembicaraan hangat. Tapi, ngga ada satu dari kami
yang merasa terganggu dengan ini.
Yah, gosip adalah gosip. Hanya sebuah kabar
tanpa kepastian.
Sama persis dengan hubungan kami, tanpa kepastian.
Kedekatan kami kaya ngga
punya tujuan.
Hubungan kami-pun masih sebatas teman. Ibarat skripsi, hubungan
kami terus bertahan di bab 1, ngga ada perkembangan. Malah, banyak revisinya.
Kenapa begitu?
Karena gue adalah manusia yang percaya bahwa pdkt adalah masa terindah
dari sebuah fase hubungan. Dan, gue juga percaya bahwa jadian akan mengubah
keindahan tersebut.
alesan.
Ya. Gue cuma beralasan.
Fakta sebenarnya adalah gue takut. Untuk memulai bab 2.
Karena gue rasa ini semua
sudah cukup.
Bisa tiap saat bercanda, berbagi hobi, ketawa bareng dia, itu sudah cukup
buat gue. Cukup bikin gue seneng.
Dan, gue pikir hubungan kami
berjalan dengan baik.
Mungkin.
Sampai suatu ketika,
dia berubah.
Dia berubah menjadi seseorang yang ngga gue kenal. Bahkan, menghilang tanpa
kabar. Seolah dia kabur dari gue, berusaha buat sembunyi dan ngga mau gue temukan.
Tanpa adanya penjelasan. Gue ngga ngerti apa yang sebenernya terjadi.
Disitu, gue mencoba tetap berpikir positif.
Ibarat kata, gue masih mencoba bertahan di suatu tempat yang sama, nunggu dia balik kesini lagi. Nunggu dia pulang.
Tapi ternyata.., dia pergi begitu lama.
Membuat gue
mulai bertanya, mulai mencari.
Gue selalu berpikir bahwa
hubungan kami berjalan dengan baik. Dan akan selalu baik.
Gue merasa sudah cukup seneng bisa berteman
dan sedeket ini sama dia. Sampai pada akhirya dia pergi. Gue menunggu. Berpikir bahwa gue cukup kuat buat bertahan. Hingga suatu hari, gue denger kabar bahwa dia punya
cowo.
Timbul suatu perasaan aneh di diri ini, yang gue sendiri ngga
pernah rasain sebelumnya. Gue ngga ngerti. Gue merasa sedih, bersalah, marah, dan yang jelas gue
merasa bahwa ada sesuatu yang hilang dari gue. Sesuatu yang ngga mungkin bisa
gue ganti dengan apapun.
Tapi, gue tetap bertahan disini. Menampar semua
berita jahat itu.
Mencoba untuk mengabaikan rasa sakit.
Kenapa?
Karena gue
sayang. Bodoh.
Kenyataanya,
rasa sayang memang membuat orang terlihat bodoh.
DAN, ternyata, gue punya batas.
Disuatu titik, gue mulai merasa gabisa bertahan
lagi, gue udah muak. Gue memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Gue sadar, bahwa ada kehidupan
yang harus terus berjalan, ada bumi yang terus berputar, ada blog yang perlu
diisi, dan masih ada tugas yang dikejar deadline. Gue akan pergi.
Gue berteriak, bahwa hidup gue bukan hanya sekedar tentang dia.
Dia hanya sebuah tokoh cerita yang beruntung ada di dalam salah-satu bab cerita
hidup gue. Hanya ada dalam satu bab.
Mungkin?.
Atau,
bisa jadi dia akan muncul
kembali di ending cerita hidup gue?
Gue ngga berharap.
Epilogue;
Sampai sekarang gue belum pernah menyatakan perasaan gue kepada
dia. Yah, silahkan panggil gue si pengecut. Dari awal, gue emang sudah nyaman dengan
apadanya kami. Jadi, gue ngga menuntut, ngga kurang ngga lebih. Cukup kami.
Satu hal, *jangan pernah
merasa rugi telah memilih untuk pergi dari orang yang membuat lu terluka.
Disitu, lu menemukan sebuah jawaban bahwa Tuhan telah menyiapkan seseorang yang
lebih baik diantara yang terbaik, untuk lu, suatu saat nanti.
Jodoh itu gak bakal
ketuker.
Dan, lu perlu inget, rencana Tuhan emang misterius,
tapi gak pernah
gagal indah.
Kata penulis;
*Quote akhir, remake dari salah satu postingan promosi OA oleh OA lain di
Line, yang ngga sengaja gue liat di TL, pas banget waktu gue nulis postingan ini. Well, Makasih OA, maaf gue lupa nama lu.
Kalo kita ketemu lagi, ntar gue add.
Hello 2017 baru bakal dipost sekitar tiga-empat hari kedepan.
Gue suka anak kecil,
tapi gue gak suka anak-anak kecil.
Kalo kalian gak
paham, salahkan otak kalian. Dasar bego.
Ini cuma masalah
arti kata tunggal dan jamak doang.
Kenapa bisa begitu?
Karena saat anak
kecil itu sendirian, maka dia bukanlah ancaman. Malah menggemaskan.
Tapi kalo udah
bergerombol, mereka adalah ancaman yang sungguh merepotkan.
Bisa kita lihat pada
waktu Shalat Tarawih.
Ya, mumpung ini
bulan puasa jadi suasananya pas kalo ngomongin Shalat Tarawih sama Takjil. Takjil-atin.
Sering kali kita
jumpai anak-anak kecil yang ikut Shalat Tarawih.
Pamit buat Shalat
Tarawih. Dengan riang gembira mereka berlari ke Masjid terdekat.
Anehnya,
sampai di Masjid, mereka gak berhenti berlari.
Mereka biasanya
mengitari Masjid, mencari kerabat mereka. Gerombolannya. Gengnya!
Setelah ketemu,
mereka basa-basi terlebih dahulu dengan saling sapa dengan berbagai gaya
tentunya.
Ada yang tos, ada yang salto terus tos, ada yang jorokin temennya
dulu baru tos, ada yang niup-niup tangannya dulu baru tos, ada yang ngupil dulu
lalu dijauhi temen-temennya, ada juga yang liatin mereka tos sampe lupa gak
shalat.
Ya, yang terakhir itu gue.
hehe.
Nah kalo udah kumpul
gini, biasanya mereka langsung menempatkan diri di barisan paling belakang,
terutama pojok.
Buat basa-basi,
awalnya mereka ikut shalat, dua-empat rakaat salah satu dari mereka tumbang
“istirahat dulu ah.. capek!”
ini biasanya
bosnya nih.
Setelah mendengar kalimat tadi, yang lainnya, budak-budaknya
pada ikutan.
Ah iya capek juga.. sama..
ah aku juga.. ..Ahh.
lalu mereka duduk bersama di barisan belakang.
Sungguh
aksi yang terencana.
Licik.
Awalnya sih mereka
emang cuma melakukan aksi duduk bersama.
Tapi, lama-lama mereka bercanda dan
bergurau yang bertujuan membuat suatu kegaduhan.
Gak butuh waktu
lama, barisan belakang sudah dipenuhi suara-suara gaduh. Mereka mulai kelihatan
aslinya.
Diantara mereka, ada
yang saling menggelitiki hingga salah satu dari mereka tak-sadar-kan diri, ada
yang main jorok-jorokan, ada yang ngomongin kartun, mainan, makanan, anak
jalanan.
Sial, mereka ngomongin anak
jalanan.
Lu bisa bayangin gak
sih, saat lu pengen khusyuk Shalat Tarawih tapi telinga lu dipenuhi suara gaduh
yang ngerebutin peran dalam sebuah sinetron, siapa yang bakal jadi Boy, Mondi,
dan sisanya, komplit dengan segala problematika sinetron tersebut.
Gue juga ikutan
emosi jadinya! Gue gak dapet peran!
Parah.
Jaman gue dulu, gue
gak kenal sinetron!
Dulu, gue rela
berantem sama temen gue cuma buat rebutin siapa yang jadi ranger merah.
Dan selalu berakhir
dengan gue nangis pulang kerumah.
Dulu gue emang
cemen. Tapi, bukan itu intinya!
Hari demi hari, gue
amati nih bocah-bocah malah makin parah.
Yang tadinya basa-basi dulu Shalat Tarawih walau cuma dua-empat rakaat, sekarang mereka datang ke Masjid langsung
mainan.
Lebih parah lagi,
sekarang mereka bawa properti!
Semalem, ada yang
bawa boneka ultramen. Gila parah.
Gue gak tau apa yang
dia pikirin sampe ada ide buat bawa ultramen ke Masjid.
Dia takut ada monster
tiba-tiba nyerang Masjid apa gimana?
Bukan cuma boneka
ultramen.
Ada juga yang transaksi jual beli petasan! Gila gak lu!
Parah!
Bocah cilik jual
beli petasan di Masjid! Sambil bawa boneka ultramen!
Gue curiga ini isi
boneka ultramen adalah petasan selundupan.
Nih kalo dibiarin,
gue takutnya makin parah lagi. Bisa aja besok-besok ada yang bawa suriken.
Bukannya pakek peci malah pakek iket kepala Naruto.
Kan jadi ada perang ninja
di dalem Masjid. Kalo waktu ruku’ kena tendangan salto nyasar kan mampus gue.
Bukan cuma bocah-bocah
cowok yang bikin gaduh, cewek juga gak kalah saing.
Modusnya aja
nyamperin bapaknya biar bisa masuk ke barisan cowok, padahal cuma mau tebar
pesona.
Dasar cewek.
Pokoknya parah-lah
nih geng tengil-tengil.
Mau diomongin cuma
didengerin doang, tegur kerasan dikit ngadu ke orangtua, diteriakin malah
menjadi-jadi bisa aja pura-pura kesurupan, kan ribet.
Sampe si Bapak Imam pernah nakut-nakutin mereka “jangan ribut yah,
ini malam Jumat loh..”, eh bukannya diem takut, yang ada malah mereka main
hantu-hantuan. Bangke.
Gue kadang gak
tahan, apalagi sama bocah yang bawa boneka ultramen ke Masjid, apa coba
maksudnya.
Hal yang nyebelin
lainnya adalah waktu jamaah bilang ‘Aamiin’
selesai baca Al-Fatihah.
Nih, bocah-bocah gak-mau-tau dia lagi apa, entah lagi berantem, tidur, ngobrol, mainan ultramen, kayak
ada saklar aja yang ngubungin mereka, pada kompak teriak amin
sekenceng-kencengnya. Biasanya nih ya, yang paling kenceng dialah si Bosnya.
Kayak ada hukum di
antara mereka yang menyatakan barang
siapa yang teriak ‘aamiin’ paling kenceng, dialah yang harus kita hormati.
Iya bener.
Biasanya
bocah yang paling kenceng teriak amin duduk di tengah, terus setelah teriak,
dia diketawain temen-temennya sebagai tanda hormat mereka pada si bocah. Si
bocah ini cuma merenges bangga, tanda keberhasilan. Cih.
Pengen gue ke Masjid
bawa petasan.
Pas tengil-tengil pada siap buat teriak amin, gue lempar tuh
petasan ke belakang. Nah kaget, kaget lu!
Biar pada kejang-kejang jantungan
juga bodo amat.
Ngeselinnya lagi kalo lu inget, ntar pas lebaran dengan wajah
sok polos mereka, minta angpao.